Mengapa segelintir pejabat pemerintah dan pengusaha berdarah Toraja terlibat dalam Porkas dan SDSB, kasus Bulog-gate II, kasus tanker VLCC Pertamina, serta kasus impor sapi dari Australia? Betulkan kasus-kasus korupsi berskala nasional itu didorong oleh ambisi menjadi to Sugi (orang kaya) dan sekaligus to Kapua (orang berpengaruh)? Betulkah nilai-nilai adat Toraja itu juga yang mendorong segelintir wakil bupati berdarah Toraja di tanah Papua, serta seorang raja kelapa sawit di Sulawesi Tengah, memupuk kekayaan sebesar-besarnya di rantau, untuk ditanamkan kembali di Toraja, dengan melanggar hukum, merusak lingkungan, dan merugikan rakyat setempat?
Kemudian, mengapa upacara penguburan (rambu Solo’) dari tahun ke tahun memakan semakin banyak kerbau, yang harus dipasok dari pulau-pulaui yang semakin jauh dari Tana Toraja? Ataukah perlombaan memotong lebih banyak kerbau ketimbang mereka yang melakukan rambu solo’ sebelumnya, merupakan prassyarat untuk kelangsungan arus wisatawan ke kawasan pegunungan di Sulawesi Selatan ini? Kalau betul demikian, sudahkan rakyat kecil Toraja menikmati keuntungan dari boom pariwisata?
Berbagai pertanyaan itu dicoba dijawab dalam buku ini, yang berfokus pada dinamika perekonomian kerbau, kopi dan pariwisata, serta dampak sosial dan ekologisnya.



